Dzikir solusi permasalahn dunia
Oleh: Charles Yusuf
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.
اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).
Jamaah Jum’at hamba Allah yang berbahagia
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kita kepada Allah, yang telah memberikan kita berbagai macam kenikmatan yang apabila kita ingin menghitungnya niscaya kita tidak akan sanggup untuk menghitung kenikmatan tersebut.
Dan terlebih-lebih karena Allah masih mengkaruniakan kepada kita dua kenikmatan yang besar yaitu nikmat Iman dan nikmat Islam, karena dengan kedua nikmat ini merupakan satu bukti bahwa kita merupakan umat pilihan, yang dipilih oleh Allah,
Shalawat serta salam selalu terlimpah kepada nabi besar Muhammad beserta keluarga, shahabat dan kepada orang-orang yang mengikuti jejak beliau dengan baik sampai akhir zaman.
Jamaah Jum’at hamba Allah yang berbahagia
Belakangan ini kita manusia ini terkadang dibuat heran dan hampir tak habis pikir, melihat tingkah laku kebanyakan manusia hari ini, banyak sekali manusia dan mungkin kita yang mengaku percaya kepada tuhan namun dalam aktivitas sehari-hari sama sekali tidadk terkesan adanay kepercayaan terhadap tuhan itu.
Laknat dan kutukan-Nya seperti tak ditakuti, terbukti dengan semakin seenaknya saja dilanggar apa yang dilarang Allah, lihat saja apa yang nyata-nyata haram disisi Allah sekarang diprogramkan secara Massal, dibiayai, dan didukung dengan undang-undang resmi. seperti Perbuatan yang pernah mengundang laknat dan murka Allah sehingga Allah mendatangkan azab yang sangat mengerikan kepada kaum nabi Luth sekarang sudah menjadi gaya hidup dan hak asasi diberbagai negeri.
Namun sebaliknya upaya untuk mengundang ridha dan bantuan Allah tidak terlihat usaha keras yang berarti. Lantas apa artinya percaya kepada Allah, buat apa itu kita nyatakan jika tidak mempengaruhi tingkah laku kita dilapangan.
Akhirnya apa yang saat ini manusia sebut-sebut dengan kemajuan dunia, harus dibayar dengan musibah dan bencana berantai yang sangat mengerikan, sehingga kemajuan itu tidak ada yang dapat kita nikmati melainkan elusan dada penyesalan serta keheranan menapa bisa begini dinegeri ini.
Baik itu pikiran, perasaan, tenaga, belum lagi kita harus menerima kehancuran nilai perikemanusiaan, soal moral dan lain sebagainya. Apayang terjadi dihapadan kita saat ini jauh-jauh hari sudah allah ingatkan penyebabnya :
¨bÎ) z`»|¡SM}$# ¾ÏmÎn/tÏ9 ×qãZs3s9 ÇÏÈ
(sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya, (al-adiyat : 7)
Menurut syekh Muhammad Sholih Al–Utsaimin orang-orang yang tidak mendapatkan hidayah maka mereka itu lakanud yaitu ingkar terhadap nikmat Allah SWT.
Manusia jika tidak mendapat hidayah dari Allah SWT ia akan bersifat lakanud dan kufur, ingkar terhadap nikmat Allah dan mereka akan bertambah ingkar dan menyimpang jika Allah memberi mereka rezeki yang lebih, mereka akan melampaui batas karena memandang dirinya tidak lagi membutuhkan Allah, berapa banyak kerusakan-kerusakan diakibatkan orang-orang yang memiliki kekayaan, mereka enggan bersyukur dan mentaati Allah.
¼çm¯RÎ)ur 4n?tã y7Ï9ºs ÓÍky¶s9 ÇÐÈ
“dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, (al-adiyat : 8)
dalam tafsir juz Amma karya Syehk utsaimin beliau menerangkan bahwa Allah akan menjadi saksi atas apa yang terlintas dalam hati serta perbuatan anak adam. Dan manusia pun akan menjadi saksi terhadap dirinya sendiri atas kekufuran terhadap nikmat dari Allah.
Kenapa manusia itu menjadi bersifat lakanud (kufur dan ingkar) dalam surah al-fajr Allah SWT, berfirman :.
cq7ÏtéBur tA$yJø9$# ${7ãm $tJy_ ÇËÉÈ
“dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.(al-fajr : 20)
Jama’ah yang berbahagia
hampir tidak ada seorangpun dari manusia yang selamat dari rasa cinta terhadap harta, namun tidak semua manusia itu mencintai harta itu dengan berlebihan sebagian ada yang menyukainya sekedar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari agar dapat beribadah kepada Allah. Nanum ada juga yang mengingkannya dengan berlimpah-limpah dan selalu ingin lebih.
Apa artinya kemajuan dunia ini jika harga imbangannya berupa hilangnya rasa percaya kita terhadap Allah SWT, dan rusaknya moral kita.
Lihatlah remaja kita hari berhubungan diluar penikahan bukan hal yang aneh kita dengar, gantung diri karena masala sepele adalah hal yang lumrah terjadi, pendidikan kita sedikit sekali yang menanamkan nilai untuk tahu siapa yang berhak untuk disembah
Tidak sedikit pendidik bangsa ini merasa malu jika anak didiknya tidak bisa mengusai ilmu saint dan teknologi namun jarang sekali yang merasa malu jika anak didiknya tidak bisa mengaji, tidak bisa sholat.
padahal membaca al qur’an satu-satunya gerbang untuk dapat memahami pedoman hidup dunia akhirat, dan sholat adalah wadah hamba untuk berjumpa dengan tuhannya. Jika generasi kita sudah tidak bisa membaca kitab sucinya sendir dan tidak tahu cara berkomunikasi dengan tuhannya, lalu apa yang akan terjadi.
Belum lagi hari-hari kita disuguhi oleh media-media dengan tayangan murahan, dari pagi hingga petang kita dijejali dengan gosip murahan, mistik yang penuh syirik, generasi muda kita diajarkan untuk sukses instant ala Indonesia idol, Indonesia mencari bakat dan sebagainya. Lalu kita hanya cukup mengelus dada ketika melihat islam yang sisiarkan untuk generasi kita seakan keras dan sadis dengan aksi-aksi terror dimana-mana.
Jama’ah jumat yang berbahagia
Jika kita renungkan ternyata penyebab semua itu adalah rasa rakus dan tidak mampunya kita meredam dari sifat keserakan terhadap dunia ini. Karena nafsu serakah tanpa pembatasan akan membawa bencana.baik bagi diri sendiri maupun orang lain ada beberapa cara agar kita mampu mereadam sifat serakah dalam diri kita ini,
Dalam surah al-adiyat Allah SWT berfirman
* xsùr& ãNn=÷èt #sÎ) uÏY÷èç/ $tB Îû Íqç7à)ø9$# ÇÒÈ
Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur,
Yakni agar kita banyak-banyak mengingat bahwa semua orang-orang yang melampaui batas akan binasa dan langsung berurusan dengan Allah SWT, abrahah dengan segala kesombongannya bukan kaum quraisy yang menghukumnya tapi Allah dengan mengirimkan burung ababil, bukan Musa yang menghakimi Qorun, haman dan Tuhan gadungan Firaun laknatullah, tapi Allah yang membenamkan Quron dengan seluruh kekayaanya dan Allah pula yang menenggelamkan Fir’aun dilautan, tidaklah ibrahim yang membunuh namrud tapi Allah dengan hanya mengirimkan seekor lalat untuk membinasakannya,
Jama’ah jum’ah arsyadakumullah
Para pembangkan akan binasa dan orang-orang sholeh pun akan merasakan kematian dan berhadapan dengan kuburan. Sejenak cobalah kita tolehkan pandangan kepemakaman betapa banyak orang-orang yang didunia kuat tenyata sekarang tak berdaya dikuburan,
Dan yang kedua adalah dengan dzikir dan sholat. Jika bukan syaitah yang punya kerja mana mungkin ada manusia yang serakah, yang tega tertawa kegirangan dan berdansa diatas bangkai saudaranya akibat kelaparan dan kelelahan.
Tidak mungkin ini terjadi jika bukan karena peranandan kerja syaithon, manusia dengan hati nuraninya tidak mungkin berbuat demikian, jika manusia masih memiliki nurani.
Hanya dengan dzikir yang padat ada harapan untuk dapat meloloskan diri dari bisikan dan jebakan syaithon. Bagaimanapun sulit dan beratnya kita upayakan bagaimana agar kita bisa tergiur menjadikan ibadah dzikir dan sholat sebagai kebutuhan pokok dalam hidup kita karena dengan dzikir dapat menjinankkan nafsu.
Sehingga sangat sulit dimengerti, kenapa kita masih melaksanakan sholat dengan begitu tergesa-gesa, dengan kecepatan super, padahal shalat sudah kita lakukan sekian lama, kenapa tidak ada usaha meningkatkan kualitas shalat itu dengan sedikit pelan sehingga dapat menghayati makna do’a dan dzikir yang diucapkan .
Bagaimana mungkin kita bisa mempertajam do’a dan dzikir jika tidak didukung oleh semua instrument dalam diri, baik pikiran, perasaan, dan penghayatan terhadap isi doa.
Jama’ah jum’at yang berbahagia
Intinya bahwa kerakusan kita dan tidak mampunya kita meredam syahwat terhadap indahnya dunia hanya akan membuat bencana dan musibah dalam hidup kita, tidak akan berguna itu semua dihapan Allah
tPöqt w ßìxÿZt ×A$tB wur tbqãZt/ ÇÑÑÈ wÎ) ô`tB tAr& ©!$# 5=ù=s)Î/ 5OÎ=y ÇÑÒÈ
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (Q.S As-syuara 88-89)
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.
Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah.
Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang disindir Allah dalam surat At-Taubah ayat 24:
ö@è% bÎ) tb%x. öNä.ät!$t/#uä öNà2ät!$oYö/r&ur öNä3çRºuq÷zÎ)ur ö/ä3ã_ºurør&ur óOä3è?uϱtãur îAºuqøBr&ur $ydqßJçGøùutIø%$# ×ot»pgÏBur tböqt±ørB $ydy$|¡x. ß`Å3»|¡tBur !$ygtRöq|Êös? ¡=ymr& Nà6øs9Î) ÆÏiB «!$# ¾Ï&Î!qßuur 7$ygÅ_ur Îû ¾Ï&Î#Î7y (#qÝÁ/utIsù 4Ó®Lym ÎAù't ª!$# ¾ÍnÍöDr'Î/ 3 ª!$#ur w Ïöku tPöqs)ø9$# úüÉ)Å¡»xÿø9$# ÇËÍÈ
“Katakanlah (Hai Muhammad) jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum ,keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pa da Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq”.
Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah;
Mari Akhir dari khutbah ini, kita selalu berharap kepada Allah, agar Allah senantiasa memberikan kepada kita keteguhan untuk selalu berjalan di atas dienNya, dan agar Allah selalu memberikan kemuliaan kepada kaum muslimin kapan dan dimanapun kaum muslimin berada.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ.
اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ.
اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.